Tips Romantik: Sambutlah suamimu



Sambut suami di muka pintu? Terasa janggal untuk melakukannya jika tidak dimulakan dari awal perkahwinan, namun pastinya rutin ini dapat dijadikan antara asbab untuk mengekalkan kedamaian dalam sesebuah rumahtangga.

Istimewanya wanita ialah segala perbuatan dan setiap apa yang disentuh oleh jari halusnya di dalam ruang lingkup rumahtangganya akan mendatangkan pahala. Namun terdapat suatu perkara yang jarang sekali diambil perhatian oleh kebanyakan wanita hari ini, iaitu perihal menyambut kepulangan suami.

Setiap kali suami pulang ke rumah suami memerlukan bantuan isterinya untuk menghilangkan rasa letih, penat, lapar, dahaga dan lain-lain beban yang sedang ditanggungnya. Oleh itu, isteri yang menyambut suami hendaklah pandai memahami mood dan kehendak suami.

Sambutlah kepulangan suami dengan air muka gembira, dan dengan senyuman. Tunjukkanlah wajah yang semanis mungkin dan senyuman yang kita berikan ketika itu akan menghilangkan sebahagian daripada keletihan suami. Elakkan daripada bersikap acuh tak acuh, bermasam muka ataupun melepaskan ‘peluru berpandu’ bila suami terjongol di muka pintu.

Sabda Rasulullah saw:
“Siapa sahaja seorang isteri bermuka muram di hadapan suaminya, maka ia dalam kemurkaan Allah swt hingga ia dapat membuat suasana yang riang gembira kepada suaminya dan memohon kerelaannya.”

Begitulah besarnya harga senyuman seorang isteri kepada suaminya. Senyuman akan mencetuskan suasana kegembiraan dan itulah sebenarnya yang dikehendaki oleh semua suami ketika pulang, terutamanya jika ia sedang dalam keletihan.
Muka yang masam bukan sahaja akan menimbulkan kemarahan suami, malahan menyebabkan Allah swt turut murka. Kemurkaan Allah itu akan berkekalan hingga isteri itu berjaya mengembalikan semula suasana gembira dan memohon keampunan daripada suami. Kerana sesungguhnya keredhaan Allah itu terletak pada keredhaan suami.

Bila suami pulang segeralah bukakan pintu. Persilakan masuk dengan penuh hormat dan dengan kata-kata yang lemah lembut. Sambutlah tangan suami dan ciumi ia sebagai tanda hormat serta meminta maaf, walaupun isteri merasakan tidak berbuat sebarang kesalahan pada hari itu. Bukannya isteri yang hulurkan tangan untuk dikucup oleh suami sepertimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang Barat hari ini.

Sebuah hadis ada menyebut bahawa apabila seorang suami bersalaman dengan isterinya, maka gugurlah segala dosa dari sela-sela jari mereka berdua. Begitulah Maha Pengampunnya Allah; dosa isteri gugur hanya dengan bersalaman dengan suami. Oleh itu rebutlah peluang dalam sebarang kesempatan untuk bersalaman dengan suami dan meminta maaf daripada suami. Tentunya tidak terhad hanya ketika suami pulang daripada kerja sahaja; lazimkan perbuatan ini ketika selepas solat jemaah, ketika hendak keluar dari rumah atau pun setelah membuat sebarang kesilapan samada kecil atau besar; supaya sentiasa mendapat keampunan Allah. Andaikata mempunyai anak-anak, ajarlah mereka itu untuk selalu bersalaman dengan ayahnya. Kelaziman ini akan memupuk rasa kasih dan hormat anak-anak kepada orang tua.

Jika suami pulang membawa buah tangan, sambutlah dengan ucapan terima kasih. Jangan biarkan sampai barang itu lama di tangannya atau suami meletakkannya sendiri di dapur. Ini tanda isteri tidak menghargai buah tangan yang dibawa oleh suami.

Jangan pula bertanya soalan-soalan seperti ‘kenapa tidak beli barang yang dipesan?’ dan seumpamanya. Soalan yang ditanya bertubi-tubi ketika suami sedang penat hanya akan membosankan suami, malahan mungkin akan menimbulkan kemarahannya.

Pernah disebut dalam riwayat, pada zaman Rasulullah, ada seorang wanita yang bakal masuk syurga lebih dahulu daripada Siti Fatimah. Wanita itu begitu taat serta sangat memuliakan suaminya. Dia menunggu kepulangan suaminya dengan pakaian yang bersih serta mengghairahkan; disediakan tuala, air sejuk dan sebatang rotan. Segala perbuatannya itu menjadi tanda tanya kepada Siti Fatimah yang mengunjunginya. Lalu beliau bertanya untuk mengetahui di sebalik perlakuan wanita itu.

Wanita itu pun berkata: “Aku bersiap-siap dan menyinsing kainku ialah supaya mudah jika suamiku ingin menyampaikan hajatnya. Adapun tuala ini ialah untuk mengesat peluhnya, air ini ialah untuk menghilangkan dahaganya dan rotan ini ialah untuk dia menghukum aku jika aku membuat sebarang kesalahan.”

Kebahagiaan rumahtangga terletak pada akhlak dan budi pekerti isteri. Biarpun seorang isteri itu tidak cantik tapi jika cukup sempurna layanannya terhadap suami dan berakhlak pula, tentu ia akan menjadi penghibur dalam rumahtangga.

Oleh itu wahai wanita-wanita atau para isteri-isteri hendaklah berlumba-lumba untuk menjadi seorang isteri yang solehah, yang bertaqwa berakhlak mulia dan taat kepada suami. InsyaAllah seorang isteri itu akan disayangi oleh Allah, suami malah seluruh makhluk di dunia.

Sabda Nabi:
“Sungguh-sungguh memintakan ampun untuk seorang isteri yang berbakti kepada suaminya, iaitu burung-burung di udara, ikan-ikan di air dan malaikat di langit selama dia sentiasa dalam kerelaan suaminya.”

Jika seorang isteri mengharap cintanya berbalas maka berbanyak-banyaklah isteri itu mencari keredhaan Allah melalui suami.

SUATU hari putri Nabi SAW. Fatimah Az Zahra ra. bertanya kepada Rasulullah SAW., siapakah wanita pertama yang memasuki surga setelah Ummahatul Mukminin  setelah istri-istri Nabi SAW.? Rasulullah bersabda: Dialah Mutiah.

Berhari-hari Fatimah Az Zahra berkeliling kota Madinah untuk mencari tahu keberadaan siapa Mutiah itu dan di mana wanita yang dikatakan oleh Nabi SAW. itu tinggal. Alhamdulillah dari informasi yang didapatkannya, Fatimah mengetahui keberadaan dan tempat tinggal Mutiah di pinggiran kota Madinah.

Atas ijin suaminya Ali bin Abi Thalib, maka Fatimah Az Zahra dengan mengajak Hasan putranya untuk bersilaturahmi ke rumah Mutiah pada pagi hari. Sesampainya di rumah Mutiah, maka Fatimah yang sudah tidak sabar segera mengetuk pintu rumah Mutiah dengan mengucapkan salam.

“Assalaamu’alaikum ya ahlil bait.” Dari dalam rumah terdengar jawaban seorang wanita, “Wa’alaikassalaam … siapakah diluar?” lanjutnya bertanya.
Fatimah menjawab, “Saya Fatimah putri Muhammad SAW.”
Mutiah menjawab, “Alhamdulillah, hari ini rumahku dikunjungi putri Nabi junjungan alam semesta.”

Segera Mutiah membuka sedikit pintu rumahnya, dan ketika Mutiah melihat Fatimah membawa putra laki-lakinya yang masih kecil (dalam riwayat masih berumur 5 tahun). Maka Mutiah kembali menutup pintu rumahnya kembali, terkagetlah Fatimah dan bertanyalah putri Nabi SAW kepada Mutiah dari balik pintu.

“Ada apa gerangan wahai Mutiah? Kenapa engkau menutup kembali pintu rumahmu? Apakah engkau tidak mengijinkan aku untuk mengunjungi dan bersilaturahim kepadamu?”

Mutiah dari balik pintu rumahnya menjawab, “Wahai putri Nabi, bukannya aku tidak mau menerimamu di rumahku. Akan tetapi keberadaanmu bersama dengan anak laki-lakimu Hasan, yang menurut ajaran Rasulullah tidak membolehkan seorang istri untuk memasukkan laki-laki ke rumahnya ketika suaminya tidak ada di rumah dan tanpa ijin suaminya. Walaupun anakmu Hasan masih kecil, tetapi aku belum meminta ijin kepada suamiku dan suamiku saat ini tidak berada dirumah. Kembalilah besok biar aku nanti meminta ijin terlebih dahulu kepada suamiku.”

Tersentaklah Fatimah Az-Zahra mendengarkan kata-kata wanita mulia ini, bahwa argumentasi Mutiah memang benar seperti yang diajarkan ayahnya Rasulullah SAW. Akhirnya Fatimah pulang dengan hati yang bergejolak dan merencanakan akan kembali besok hari.

Pada hari berikutnya ketika Fatimah akan berangkat ke rumah Mutiah, Husein adik Hasan rewel tidak mau ditinggal dan merengek minta ikut ibunya. Hingga akhirnya Fatimah mengajak kedua putranya Hasan dan Husein. Dengan berpikir bahwa Mutiah sudah meminta ijin kepada suaminya atas keberadaannya dengan membawa Hasan, sehingga kalau dia membawa Husein sekaligus maka hal itu sudah termasuk ijin yang diberikan kepada Hasan karena Husein berusia lebih kecil dan adik dari Hasan.

Namun ketika berada didepan rumah Mutiah, maka kejadian pada hari pertama terulang kembali. Mutiah mengatakan bahwa ijin yang diberikan oleh suaminya hanya untuk Hasan, akan tetapi untuk Husein Mutiah belum meminta ijin suaminya.

Semakin galau hati Fatimah, memikirkan begitu mulianya wanita ini menjunjung tinggi ajaran Rasulullah SAW. dan begitu tunduk dan tawaddu’ kepada suaminya.

Pada hari yang ketiga, kembali Fatimah bersama kedua anaknya datang ke rumah Mutiah pada sore hari. Namun kembali Fatimah mendapati kejadian yang mencengangkan, dia terkagum. Mutiah didapati sedang berdandan sangat rapi dan menggunakan pakaian terbaik yang dipunyai dengan bau yang harum, sehingga Mutiah terlihat sangat mempesona.

Dalam kondisi seperti itu, Mutiah mengatakan kepada Fatimah bahwa suaminya sebentar lagi akan pulang kerja dan dia sedang bersiap-siap menyambutnya. Subhanallah, kita merindukan istri yang demikian. Yaitu ketika suami pulang kerja dia berusaha menyambutnya dengan kondisi sudah mandi, sudah berdandan, sudah memakai pakaian yang bagus, dan siap menyambut kedatangan suami di halaman rumah dengan senyuman terindah penuh kasih dan sayang. Ya Allah, jadikanlah istri-istri kami seperti Mutiah.

Akhirnya Fatimah pulang kembali dengan kekaguman yang tak terperi kepada Mutiah. Dan pada hari yang keempat, Fatimah datang kembali ke rumah Mutiah lebih sore dan berharap bahwa suaminya sudah berada di rumah atau sudah pulang dari kerja. Dan Alhamdulillah memang pada saat Fatimah datang, suami Mutiah baru saja sampai di rumah pulang dari kerja.

Fatimah dan kedua anaknya Hasan dan Husein dipersilahkan masuk oleh Mutiah dan suaminya ke rumahnya. Fatimah melihat sebuah pemandangan yang jauh lebih mengesankan dibanding dengan yang dihadapinya sejak hari pertama. Mutiah sudah menyiapkan baju ganti yang bersih untuk suaminya, sambil menuntun suaminya ke kamar mandi. Mutiah terlihat mulai melepaskan baju suaminya, dan mereka berdua hilang masuk ke bilik kamar mandi. Dan yang dilakukan
oleh Mutiah adalah memandikan suaminya. Subhanallah… Tsumma Subhanallah.

Selesai memandikan suaminya, Fatimah menyaksikan Mutiah menuntun suaminya menuju ke tempat makan. Dan suaminya sudah disiapkan makanan dan minuman yang dimasaknya seharian. Sebelum memakan makanan yang sudah disiapkan, Mutiah masuk ke dalam rumah dan keluar dengan membawa cambuk sepanjang 2 meter dan diberikan kepada suaminya dengan mengatakan.

“Wahai suamiku, seharian aku telah membuat makanan dan minuman yang ada didepanmu. Sekiranya engkau tidak menyukai dan tidak berkenan atas masakan yang aku buat, maka cambuklah diriku.”

Tanpa bertanya apa-apa, Fatimah sudah memahami apa yang dikatakan oleh ayahnya Rasulullah SAW. tentang wanita pertama penghuni surga setelah para istri Nabi yaitu Mutiah.

Fatimah pulang menangis haru dan bahagia karena sudah mendapatkan jawaban bagaimana istri yang sholihah. Seperti yang ada pada diri Mutiah, yang mendapatkan kehormatan sebagai wanita yang paling dahulu memasuki surga Allah SWT.



0 Ulasan